Tujuan, Peran Terapis dan Teknik Humanistik Eksistensial.

Artikel 5
 Pendekatan eksistensial-humanistik menekankan renungan-renungan filosofis tentang apa artinya menjadi manusia utuh. Terapi eksistensial terutama berpijak pada premis bahwa manusia tidak bisa melarikan diri dari kebebasan dan bahwa kebebasan dan tanggung jawab itu saling berkaitan. Berfokus pada kondisi manusia. Pendekatan terapi eksistensialjuga bukan suatu pendekatan terapi tunggal, melainkan suatu pendekatan yang mencakup terapi-terapi yang berlainan yang kesemuanya berlandaskan konsep-konsep dan asumsi-asumsi tentag manusia.
Tujuan Terapeutik
Terapi eksistensial bertujuan agar klien mengalami keberadaannya secara otentik dengan menjadi sadar bahwa ia dapat membuka diri dan bertindak berdasarkan kemapuannya. Pada dasarnya tujuan terapi eksistensila adalah meluaskan kesadaran diri klien, dan karenanya meningkatkan kesanggupan pilihannya, yakni menjadi bebas dan bertanggungjawab atas arah hidupnya. Penerimaan tanggung jawab itu bukan suatu hal yang mudah; banyak orang yang takut akan beratnya bertanggung jawab atas menjadi apa dia sekarang dan akan menjadi apa dia selanjutnya. Mereka harus memilih, misalnya akan tetap berpegang pada kehidupan yang dikenalnya atau akan membuka diri kepada kehidupan yang kurang pasti dan lebih menantang. Justru tiadanya jaminan-jaminan dalam kehidupan itulah yang menimbulkan kecemasan. Oleh karena itu, terapi eksistensial juga bertujuan membantu klien agar mampu menghadapi kecemasan sehubungan dengan tindakan memilih diri, dan menerima kenyataan bahwa dirinya lebih dari sekedar korban kekuatan-kekuatan deterministic di luar dirinya.
Fungsi dan Peran Terapis
Tugas utama terapis adalah berusaha memahami klien sebagai ada dalam-dunia.  May (dalam Gerald, 2007) memandang tugas terapis di antaranya adalah membantu klien agar menyadari keberadaannya dalam dunia: “ini adalah saat ketika pasien melihat dirinya sebagai orang yang terancm, yang hadir di dunia yang mengancam dan sebagai subjek yang memiliki dunia”.
Frank (dalam Gerald, 2007)menjabarkan peran terapis sebagai “spesialis mata daripada sebagai pelukis”, yang bertugas “memperluas dan memperlebar lapangan visual pasien sehingga spectrum keseluruhan dan makna nilai-nilai menjadi disadari dan dapat diamati oleh pasien.

Teknik-teknik Humanistik eksistensial tidak seperti kebanyakan pendekatan terapi, penekatan eksistensial-humanistik tidak memiliki teknik-teknik yang ditentukan secara ketat. Prosedur terapeutik bisa dipungut dari beberapa pendekatan terapi lainnya. Tetapi  terapi eksistensial-humanistik merepresentasikan sejumlah tema yang penting yang merinci praktek-praktek terapi.
Tema-tema dan dalill-dalil utama eksistensial
1         Dalil 1: Kesadaran diri
Manusia memeliki kesanggupan untuk menyadari diri yang menjadikan dirinya memapu melampaui situasi sekarang dan membentuk basis bagi aktivitas-aktivitas berpikir dan memilih yang khas manusia. Kesadaran diri itu yang membuat manusia berbeda dengan makhluk lainnya. Pada hakikatnya semakin tinggi kesadaran diri seseorang, maka ia semakin hidup sebagai pribadi stsu sebagaimana dinyatakan oleh  Kierkegaard, “Semakin tinggi kesadaran, maka semakin utuh diri seseorang”.
2         Dalil 2: Kebebasan
Manusia adalah makhluk yang menentukan diri, dalam arti bahwa dia memiliki kebebasan untuk memilih di antara alternatif-alternatif. Karena pada dasarnya bebas, maka dia harus bertanggung jawab atas pengarahan hidup dan penentuan nasibnya sendiri.
3         Dalil 3: Keterpusatan dan Kebutuhan akan orang lain
    Setiap individu memiliki kebutuhan untuk memelihara keunikan dan keterpusatannya, tetapi pada saat yang sama ia memiliki kebutuhan untuk keluar dari dirinya sendiri dan untuk berhubungan denganorang lain serta dengan alam. Kegagalan dalam berhubungan dengan orang lain dan denga alam menyebabkan ia kesepian, mengalami aliensi, keterasingan dan depersonalisasi.
4         Pencarian Makna
Salah satu karakteristik pada manusia adalah perjuangannya untuk merasakan arti dan maksud hidup. Manusia pada dasarnya selalu dalam pencarian makna dan identitas pribadi.
5         Dalil 5: KEcemasan sebagai Syarat Hidup
Kecemasan dadalah suatu karakteristik dasar manusia. Kecemasan tidak perlu merupakan sesuatu yang patologis, sebab ia bisa menjadi suatu tenaga motivasional yang kuat untuk pertumbuhan. Kecemasan adalah akibat dari kesadaran atas tanggung jawab untuk memilih.
6         Dalil 6: Kesadaran atas Kematian dan Non-Ada
Kesadaran atas kematian adalah kondisi manusia yang mendasar yang memberikan makna kepada hidup. Para eksistensial tidak memandang kematian secara negative. Menurut mereka mereka, karakteristik yang khas pada manusia adalah kemampuannya untuk memahami konsep masa depan dan tak bisa dihindarkannya kematian. Justru kesadaran atas akan terjadinya ketiadaan memberikan makna kepada keberadaan, sebab hal itu menjadikan setiap tindakan manusia itu berarti.
7         Dalil 7: Perjuangan untuk Aktualisasi Diri
Manusia berjuang untuk aktualisasi diri, yakni kecenderungan untuk menjadi apa saja yang mereka mampu. Setiap orang memiliki dorongan bawaan untuk menjadi seorang pribadi, yakni mereka memiliki kecenderungan kea rah pengembangan keunikan dan ketunggalan, penemuan identitas pribadi, dan perjuangan demi aktualisasi potensi-potensinya secar penuh. Jika seseorang mampu mengaktualkan potensi-potensinya sebagai pribadi, maka dia akan mengalami kepuasan yang paling dalam yang bisa dicapai oleh manusia, sebab demikianlah alam mengharapkan mereka berbuat.



Sumber:
Corey, G. (2007). Konseling dan psikoterapi. Bandung: PT Refika Aditama
Riyanti, D, Prabowo, H. (1998). Psikologi umum 2. Jakarta: Gunadarma 

No comments:

Post a Comment