Terapi, Peran Terapis dan Tekhnik Person Centered Therapy

Artikel 6

Carl R Rogers mengembangkan terapi Client-Centered sebagai reaksi terhadap apa yang disebutnya keterbatasan-keterbatasan mendasar dari psikoanalisis. Pendekatan client-centered adalah cabang khusus dari terapi humanistic yang menggaris bawahi tindakan mengalami klien berikut dunia subjektif dan fenomenalnya. Terapis berfungsi terutama sebagai penunjang pertumbuhan pribadi kliennya dengan jalan membantu kliennya itu dalam menemukan kesanggupan-kesanggupan untuk memecahkan masalah-masalah. pendekatan client-centered menaruh kepercayaan yang besar pada kesanggupan klien untuk mengikuti jalan terapi dan menemukan arahnya sendiri.
Tujuan Terapis
Tujuan dasar terapi client-centered adalah menciptakan iklim yang kondusif bagi usaha membantu klien untuk menjadi seorang pribadi yang berfungsi penuh. Guna mencapai tujuan terapeutik tersebut, terapis perlu mengusahakan agar klien bisa memahami hal-hal yang ada di balik topeng yang dikenakannya. Klien mengembnagkan kepura-puraan dan bertopeng sebagai pertahanan terhadap ancaman. Sandiwara yang dimainkan oleh klien menghambatnya untuk tampil utuh di hadapan orang lain dan dalam usahanya menipu orang lain, ia menjadi assing terhadap dirinya sendiri. Apabila dinding itu runtuh selama proses terapeutik, orang macam apa yang muncul dari balik kepura-puraan itu? Rogers (dalam Gerald, 2007) menguraikan cirri-ciri orang yang bergerak kea rah menjadi bertambah teraktualkan sebagai berikut: (1) keterbukaan pad pengalaman, (2) kepercayaan terhadap organism sendiri (3) tempat evaluasi internal, dan (4) kesediaan untuk menjadi suatu proses. Cirri-ciri tersebut merupakan tujuan-tujuan dasar terapi client-centered.
Fungsi dan Peran Terapis
Peran terapis client-centered berakar pada cara-cara keberadaanya dan sikap-sikapnya, bukan pada penggunaan teknik-teknik yang dirancang untuk menjadkan klien “berbuat sesuatu”. Penelitian tentang terapi client-centered tampaknya menunjukkan bahwa yang manuntut perubahan kepribadian klien adlah sikap-sikap terpapis alih-a;ih pengetahuan, teori-teori atau teknik-teknik yang digunakannya. Pada dasarnya, terapis menggunakan dirinya sendiri sebagai alat untuk mengubah. Dengan menghadapi klien pada taraf pribadi ke pribadi, maka “peran” terapis adalah tanpa peran. Adapun fungsi terapis adalah membangun suatu iklim terapeutik yang menunjang pertumbuhan klien. Jadi, terapis client-centered membangun hubungan yang membantu dimana klien akan mengalami kebebasan yang diperlukan untuk mengeksplorasi area-area hidupnya yang sekarang diingkari atau didistorsinya. Klien menjadi kurang defensif dan menjadi lebih terbuka terhadap kemungkinan-kemungkina yang ada dalam dirinya maupun dalam dunia. Yang pertama dan terutama, terapis harus bersedia menjadi nyata dalam hubungan dengan klien. Terapis menghadapi klien berlandasakan pengalaman dari saat ke saat dan membantu klien dengan jalan memasuki dunianya alih-alih menurut kategori-kategori diagnostic yang telah dipersiapkan. Melalui perhatian yang tulus, respek, penerimaan, dan pengertian terapis, klien bisa menghilangkan pertahanan-pertahanan dan persepsi-persepsinya yang kaku serta menuju taraf fungsi pribadi yang lebih tinggi.

Teknik-teknik dalam Person client-centered
Rumusan-rumusan yang lebih dini dara pandangan Rogers tentang psikoterapi member penekanan yang lebih besar pada teknik-teknik. Perkembangan pendekatan client-centered disertai oleh peralihan dari penekanan pada teknik-teknik terapeutik kepada penekanan pada kepribadian, keyakinan-keyakinan, dan sikap-sikap terapis, serta pada hubungan terapeutik. Hubungan terapeutik, yang selanjutnya menjadi variabel yang sangat penting, tidak identik dengan apa yang dikatakan atau dilakukan oleh terapis. Dalam kerangka client-centered, “teknik-teknik”-nya adalah pengungkapan dan pengkomunikasian penerimaa, respek, dan pengertian, serta berbagai upaya dengan klien dalam mengembangkan kerangka acuan internal dengan memikirkan, merasakan dan mengeksplorasi. Menrut pandangan pendekatan client-centered, penggunaan teknik-teknik sebagai muslihat terapis akan mendepersonalisasi hubungan terapi klien. Teknik-teknik harus menjadi suatu pengungkapan yang jujur dari terapis, dan tidak bisa digunakan secara sadar diri sebab terapis tidak akan menjadi sejati.



Sumber:
Corey, G. (2007). Konseling dan psikoterapi. Bandung: PT Refika Aditama
Riyanti, D, Prabowo, H. (1998). Psikologi umum 2. Jakarta: Gunadarma 

No comments:

Post a Comment